Yang Penting Kopinya 23 November, 2007
Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackbackBeberapa bulan terakhir ini, kami dikontrak beberapa perusahaan untuk membahas “The Spiritual SMART Management. Yaitu SMART Manajemen dengan pendekatan spiritual. Salah satu diskusi yang sangat hangat adalah masalah efesiensi keuangan dengan cara menghapus lembur. Pihak karyawan protes keras dan bahkan sudah mulai terjadi ketegangan-ketegangan kecil yang tidak menutup kemungkinan seperti api dalam sekam. Pihak perusahaan, tetep dengan keputusannya, bahwa lembur ditiadakan, dan pekerjaan dipadatkan, dengan harapan profit akan menjadi penuh lonjakan.
Akhirnya, pihak perusahaan dan pihak karyawan sama-sama tidak nyaman, akhirnya ada gejala-gejala stress. Salah satu ciri sederhananya adalah, tingkat pergi ke kamar kecil semakin hari semakin padat. Padahal selama ini, sangat jarang terjadi, kamar kecil di perusahaan sampai antri. Kejadian ini, mengingatkan saya akan kisah yang sangat menarik berikut ini.
Sekelompok alumni University California of Bekeley yang kehidupannya telah mapan dalam karir dan bisnis masing-masing, berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada keluhan para eksikutif itu, tentang stess di pekerjaan, bisnis dan kehidupannya.
Profesor ini, akhirnya menawari kopi kepada mantan mahasiswanya yang sekarang sudah jadi eksikutif sukses. Professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis. Dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah. Kemudian, mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuangkan sendiri kopinya.
Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir indah dan mahal telah diambil, sekarang yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan murah harganya”.
Kemudian profesor ini melanjutkan: “Meskipun normal bagi kalian berkeinginan hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah penyebab utama permasalahan dan stress yang kalian alami.”
“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir-cangkir orang lain.”
Profesor melanjutkan percakapannya lagi: “Sekarang perhatikan hal ini, kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan dan juga tidak mengganti kualitas kehidupan yang kita jalani. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Tuhan menyediakan kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya. Sadarilah jika kehidupan kita itu lebih penting dibanding pekerjaan, keuangan, dan profit kita. Jika semua itu membatasi diri kita dan mengendalikan hidup kita, berarti kita menjadi orang yang mudah diserang ketidaknyamanan dan rapuh akibat perubahan keadaan.
Pekerjaan akan datang dan pergi, penghasilan akan datang dan pergi, profitpun juga akan datang dan pergi. Namun, itu seharusnya tidak boleh merubah diri kita sebagai manusia. Pastikan diri kita mampu membuat sebanyak-banyaknya tabungan kesuksesan dalam kehidupan dan tidak boleh kenyamanan kehidupan kita mengarah ke tingkat ketidaknyamanan yaitu stress hanya gara-gara mengejar lembur bagi pihak karywan dan mengejar profit dengan cara penghematan berlebih yang dilakukan pemilik perusahaan.
Hidup adalah pilihan. Berani menghadapi tantangan, akan keyakinan bahwa hidup ini indah dan tidak boleh keindahan kehidupan ini tegores oleh lembur dan profit!!! Yang penting kopinya bung. Bagaimana pendapat Anda ???



Comments»
Asslkm Wr.Wb
Kalau hidup memang pilihan.. Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini??Apakah kesuksesan tapi tidak membuat hidup menjadi nyaman. Sebenarnya kesuksesan diukur dari apa??
Terima kasih
Kesuksesan itu diukur pada seberapa manfaat kita hidup di dunia ini, sebab kita diciptakan sebagai khalifah di bumi. Mari sama-sama menjadi orang bermanfaat. Merdeka !!!! Kapan ke Bandung ???
kalau ng’gowes lebih enak pakai nomad mas apa lagi turunan walaupun sama2 ng’gowes dengan pit kebo…he he he
Halo mas. Rudi ….apalagi Nomadnya, sering dipakai, itu lebih enak. Kalau disimpan terus, bisa karatan. Banyak yg sepedanya bagus, hanya untuk didiskusikan dan bukan untuk dinaiki. Kasihan khan sepedanya he..he..he..
begitu Indah kalau kita bisa lebih fokus kopinya dari pada cangkir tapi untuk sampai disitu kita harus mengenal proses hidup kan Mas
Tanggal 11 Desember pas makan siang di salah satu perusahaan internasional, salah satu pimpinannya perusahaan itu mengeluarkan hp Nokia yang generasinya lebih tua dari Nokia 330, pada saat bebelumnya ada karyawan level bawah yang meminjam uang ke koperasi perusahaan itu untuk menutupi gensinya, beli Nokia generasi terbaru. Yang penting memang kopinya he..he..
bener juga ya pak. yang penting kopinya je.
Apa kabar suasana Kore mas. Hafid, mari kita menikmati kopi bukan cangkit, kecuali kalau kita mau jualan cangkir, memang cangkir harus dinikmati, setelah laku terjual, kemudian beli kopi
sebuah anekdot yg menarik namun jika kualitas kopi yg sama dan kita disuruh memilih antara cangkir yang bagus dan cangkir yang kurang bagus tentu kita akn memilih cangkir yg bgs dan berusaha agar cangkir yg kurang bgs di ambil sama org lain,,manusia tidak ada yg sempurna namun kita semua menginginkankan yg terbaik dlm hidup ini,,salam kenal mas amri
Salam kenal mr. g-boy, memang kita selalu memilih yang terbaik. Namun, keinginan kita memilih yang terbaik itu, tidak merusak kenyamanan hidup kita. Contoh sederhana, para eksikutif muda di Jakarta misalnya, 75 % penghasilannya habis untuk penampilan, dan bukan utk investasi. Akhirnya, hidup dalam kepura-puraan, merasa dirinya sukses he..he..
Alahamdulillah mas amri….walaupun saya telat baca artikel ini tapi saya sangat senang ada pencerahan baru buat saya,2 bulan ini saya mengalami stress yang cukup berat dalam menghadapi pekerjaan tuntutan efisiensi adalah kata yang paling jitu untuk mengatasnamakan sebuah “peng-irit-an” yang tidak tanggung-tanggung.Memang benar hidup ini sebuah pilihan tapi terkadang saya juga bingung dengan diri saya,apa artinya uang,kenikmatan fasilitas hidup tapi kalo kita hidup tidak nyaman beribadah,apa artinya semua ini dan mohon saran mas amri ya….jazakumullah khairun katsiroh
Banyak perusahaan “memang” melakukan efesiensi, padahal pengiritan juga. Sebenarnya efesiensi sangat penting, cuma banyak diantara kita efesiensi hanya terbatas pada efesiensi otak kiri (IQ), bukan efesiensi otak kanan (EQ), apalagi sampai memasuki efesiensi otak hati (SQ). Kalau hanya pada level IQ, maka perusahaan dan atau karyawan stress dan biaya untuk penyembuhan stress perusahaan dan orang yang ada didalamnya akan sangat mahal, akhirnya berdampak menjadi pemborosan
Halo Mas Amri….
Kayaknya itu pengalaman waktu training kita-kita ye….
he..he…
Tapi gak apa2, kita jadi bisa legowo dan berfikir positif
thanks pak…
see. u
Apa kabar mr. eka setiawan …..
Apa kabar, sudah lama nggak saling silaturahmi.
Kapan-kapan, kita ngobrol di PT. Pindo Deli Karawang yeach
Salam prestasi !!!