jump to navigation

Tuhan menghendaki kita kaya 29 May, 2008

Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : Sepedahan, business, mba , 22 comments

danau-singkarak-solok.jpg 

Bagian keempat

Silaturahmi memang luar biasa. Mari kita pahami salah satu kehendak Tuhan agar kita menjadi kaya. Kali ini mengambil studi kasus yang terisnpirasi selesainya program perjalanan SJN-8,  komunitas Sepeda Jelajah Nusantara seri delapan mulai tanggal 16 Mei sampai 21 Mei 2008.

Ketika kami mengikuti program SJN-8, ada banyak hal yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah banyak kenalan baru yang sangat luar biasa. Sebagai contoh sangat sederhana yaitu (1) Panitia lokal club RUBIC-Rumbai Bicycle Club disitu ada sepuluh anggota (2) Panitia lokal MTB Payakumbuh ada tujuh orang; (3) Panitia lokal Himapeka Waradipa ada sembilan orang; (4) Panitia lokal Mapala Unand ada sebelas orang; (5) Panitia lokal Saka Wana Bakti Kerinci ada enam orang; (6) Panitia KPA Lestari Kerinci ada empat orang; (7) Panitia pusat ada sembilan orang; (8) Peserta SJN-8 sekitar enam puluh lima orang yang terdiri dari paket satu dan dua; (9) Penggembira lebih dari lima puluh orang; (10) Para pejabat pemerintah daerah mulai dari tingkat Propinsi Riau, Propinsi Sumatera Selatan, Propinsi Jambi dan lain sebagainya.

(more…)

Tuhan menghendaki kita kaya 15 May, 2008

Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : business, mba , 20 comments

iklan-kerinci-sumatera-jambi.jpg

Bagian ketiga

Hoooorrrreeeeee kesibukan rutin itu bisa menjadi racun dan candu yang membunuh kreativitas dan produktivitas, sedangkan Tuhan menghendaki kita hidup kreatif dan produktif, agar menjadi kaya. Kesempatan ini, mari mencoba kehendak Tuhan agar kita menjadi kaya, yaitu terisnpirasi rencana perjalan SJN-8,  komunitas Sepeda Jelajah Nusantara seri delapan, dengan aktivitas seperti dibawah ini.

(more…)

Tuhan menghendaki kita kaya 8 May, 2008

Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , 19 comments

ban.JPG 

(Bagian Kedua) 

Sekitar tahun 1978, 1979, dan 1980, yaitu sewaktu masih SMP, seperti biasa kalau orang kampung sekolah, sebagian besar harus menempuh puluhan kilo meter dengan akomodasi unggulan sepeda ontel yang walaupun sadelnya sudah dipendekkan tetep saja kaki sampai pedal belum sempurna. Bahkan bisa dibilang, yang berjalan lebih terlihat sepeda daripada orangnya. Maklum waktu itu masih sangat kecil sekali, dipaksa harus dengan gembira hati mengayuh sepeda 28 km perhari dengan kontur jalan naik turun. Sebab desa kami di lereng gunung dan tanpa uang saku, kecuali kalau diperjalanan ada buah jeruk yang jatuh atau pohon tebu yang sedang panen.

Kegembiraan menjadi meluap-luap ketika pulang sekolah kondisi hujan, disamping menjadi tidak panas, sebab pulang siang hari dan kondisi perjalanan 80 % nanjak Biasanya kalau hujan kami sering pulang balapan, tidak ada hadiah apa-apa, tapi kegembiraan bisa menang, dapat menghilangkan lapar, sebab tidak pernah sekolah dengan uang saku, kalau misalnya ada sarapan pagi, makanan faforitnya adalah nasi putih dan sambal kelapa atau singkong rebus.

(more…)