Posted by AMRI - Knowledge Entrepreneur in : mba , trackback

Pertama, sekitar sepuluh tahun yang lalu, beberapa temen persiapan untuk camping di tengah hutan. Semua perbekalan sudah disiapkan dengan sangat teliti dan percaya diri. Rombongan berangkat pukul 13.00 WIB agar sampai puncak gunung, sebelum pukul 18.00 WIB. Seperti biasa, pegunungan selalu diliputi oleh kabut dan sedikit hujan. Setelah sampai di puncak, rombongan mendirikan tenda dan aktifitas lainnya. Ada kejadian, sangat diluar dugaan, ketika pukul 20.00 WIB rombongan mau memasak, rupanya tidak ada satupun yang membawa korek api. Mau turun sangat tidak mungkin, kecuali semua turun, sebab jalur penuh jebakan. Akhirnya, semalaman kedinginan dan kelaparan. Sekedar, korek api, sudah bisa melumpuhkan rombongan.
Kedua, ini sumber dari detikcom, yaitu hujan yang turun sejak pagi buta membuat penerbangan pesawat Garuda GA 302 CKG-SUB tertunda. Penundaan ini bukan disebabkan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, tergenang air, tapi karena pilot Garuda terjebak banjir. Terjadi dua kali pemunduran dari jadwal semestinya. Seharusnya pesawat terbang pukul 06.00 WIB, kemudian diundur menjadi pukul 07.00 WIB. Setelah menunggu satu jam kembali diinformasikan jadwal molor lagi menjadi pukul 08.00 WIB. “Saat di ruang tunggu ada pemberitahuan pilotnya kebanjiran,” katanya. Sekedar, sebagian air yang ada, sudah bisa menunda penerbangan.
Ketiga, seseorang pergi keluar kota untuk bersepeda sambil rekreasi. Semua peralatan sudah dibawa, pompa, tas sepeda agar sepeda tidak rusak, sepatu sepeda, jersi, helm, bahkan hotel tempat menginap sudah dipesan sebulan sebelumnya. Ketika sampai tujuan, semua sudah dipersiapkan, namun ada satu kejadian tak terduga, rupanya pedal sepeda tertinggal dirumah. Sekedar, pedal sepeda, semua aktifitas bersepedanya batal.
Keempat, pada saat kuliah seorang temen mengirim kartu lebaran ke orang tuanya, sebab tidak bisa pulang kampung, demi penghematan keuangan. Surat itu dialamatkan ke Belitung, yaitu Tanjung Pandan. Namun, bagian sortir surat pos, salah menempatkan. Surat untuk Tanjung Pandan disimpan di keranjang Tanjung Pinang. Jelas saja, sampai musim haji, surat itu tidak sampai. Tanjung Pandan letaknya di Belitung, sedangkan Tanjung Pinang letaknya di Kepulauan Riau. Kejadian ini, hampir mirip dengan Novel Maryamah Karpov karangan Andrea Hirata. Sekedar, salah keranjang, keluarga ini saling berprasangka tidak baik.
Pembelajaran kehidupan sangatlah banyak dalam hidup ini. Permasalahannya adalah seberapa bagus kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran dari setiap kejadian.
Pertanyannya adalah:”Mengapa banyak pelajaran, kita tetap tidak bisa mengambil pelajaran?”. Salah satu jawaban sederhananya adalah “Karena kita hidup dalam rutinitas yang menjadikan kita tumpul dalam menangkap pembelajaran-pembelajaran dari setiap kejadian”. Mari kita mencoba untuk hidup tidak terjebak rutinitas yang membodohkan
Berani hadapi tantangan setiap hari membuat terobosan agar hidup tidak rutin yang membodohkan!!! Bagaimana pendapat sahabat ???
Comments»
Pagi tadi skitar jam 10an listrik dirumah saya mulai padam dan saya perhatikan tidak terdengar adzan sholat jumat lalu segera saya brangkat kemasjid memang benar listrik di masjid ternyata padam maka adzan pun berlangsung tanpa pengeras suara termasuk khotbahpun tanpa pengeras suara tapi yang membuat saya geli beberapa saat Ustadz mulai khotbah sang takmir memberikan pengeras suara toa yg biasa dipakai mahasiswa orasi…. Kebayangkan bagaimana Ustadznya khotbah jumat dengan pengeras suara toa kecil menggelikan memang tapi memang apa daya memang pada saat itu listrik padam dikarenakan dua gardu listrik dengan tempat yang berbeda rusak secara bersamaan sehingga daerah padam listrik ternyata luas, bagaimana dengan masjid-masjid yang lain di daerah kami…. Saya tidak tahu tapi yang pasti mungkin ada mungkin juga tidak ada yang pakai toa kecil hehehe….
Emang saya pun juga demikian terkadang juga tidak bisa mengambil pelajaran dari banyak pelajaran dari kehidupan ini….
Semoga segera bisa mengambil pelajaran dari kehidupan..
Salam Mas Amri…
Ya, kaya di sekolah aja, murid belajar dari guru yang sama, hasil ujian bisa sangat berbeda….
Semoga kita bisa diberi kepekaan untuk “belajar” dari kehidupan… dan tidak terjebak oleh “Belenggu” rutinitas….
Semua orang akan MATI, tapi TIDAK semua orang BENAR-BENAR HIDUP…
Suwun Mas Amri….
Halo om Arya ………………. selamat pakai Toa yeach, biar Khotbahnya kayak terasa sambil camping ….
Apa kabar mas. Wawan ….. selamat mengambil pelajaran dari kehidupan yeach …………..
Semua orang akan MATI, tapi TIDAK semua orang BENAR-BENAR HIDUP… bagus bahasanya.
Jadi ingat, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup dan takut hidup mati saja he..he..
banyak rutinas yang membutakan mata hati kita bahkan otakpun ikut tumpul , ya kekurangan kita terlalu meremehkan hal yang kecil padahal yang kecil bisa membuat sesuatu menjadi besar. trims mas amri untuk tulisannya
Mas. Andi … semoga kita tidak terjebak dalam ketidakjelasan …
Assalammualaikum Mas Amri,
Rutinitas memang kadang membodohkan kenapa??
Karena begitu kita masuk ke dalam rutinitas berarti kita sdh statis alias diam apalagi dengan pd nya selalu yakin bahwa kita selalu benar akhir jadi lupa deh pedalnya. he…he…
Jadi menurut saya, utk keluar dari rutinitas, selalu lah bergerak…cari sesuatu yang baru dan jangan takut jika memang terpaksa mulai dari bawah kembali.
Selalu bergerak, action.
Wassalam,
Asw. Mas Amri,
Mohon beri contoh rutinitas membodohkan yang lebih banyak lagi. kalau kita terasa jemu apakah itu pertanda kita sudah terjebak rutinitas membodohkan , bagaimana mensiasati agar tidak terjebak rutinitas membodohkan ?
Apa kabar mas. Ganjar ….. kalau kita jemu, memang ada gejalan rutinitas. Salah satu cara mensiasati adalah …. modifikasi rutinitas ….